"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu, melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik." Aku dalam novel yang ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna ini digambarkan oleh seekor beruang. Besar, kuat dan memiliki bulu yang amat tebal, Baltazar namanya. Ia ditangkap oleh para pemburu, dirumahkan di kebun binatang Cile. Sejak saat itu kebebasannya dirampas, kehidupannya terusik oleh ulah para penjaga. Baltazar digambarkan sebagai beruang yang tak biasa. Ia memiliki pemikiran yang arif, selera humornya yang manusiawi, serta sudut pandangnya yang unik. Dari balik jeruji besi itu, ia merenungi situasinya untuk melucuti masalah-masalah kemanusiaan. Seperti halnya kekuasaan, penghambaan dan kebebasan. Penulis memberikan ruang beruang untuk bisa berfikir, layaknya manusia. Kelihaian penulis dalam menggambarkan perasaan Baltazar yang hidup di bawah tekanan, menerima...
Duka yang paling dalam adalah perihal pernah mencintaimu. Mata api kebohongan, melalui kacamata kecilmu. Pembicaraan itu tercipta dari mulut para sesumbar. Lelaki yang memakai jam tangan hitam, dan ciri rambut ikal di kepalanya. Kita menciptakan pembicaraan seperti sebuah aliran. Panjang dan terus mengalir. Kau hidup berpangku pada tangan dan kakimu. Serta pada motor merahmu, yang sering kali kau bawa kemana-mana. Aku perempuan. Yang hanya bisa berjalan dengan kedua kakiku. Serta hidup dengan keyakinan dan doa orang tua. Setelah pembicaraan yang mengalir itu, tiba-tiba tidak pernah ada perbincangan diantara kita. Kau berjalan balik, dan aku tetap berjalan lurus. Kacamatamu, ternyata... Penuh tipu daya. Semarang, 3 Juli 2019