Langsung ke konten utama

Peranan Bissu dalam Menjaga Tradisi Masyarakat Bugis


Doc : Internet

 
     Tuhan menciptakan karya yang begitu luar biasa mempesona dan beragam, begitupun dengan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. 

   Indonesia mempunyai begitu banyak suku dan kebudayaan, tidak terlepas dari sejarah penduduk yang dulunya mempunyai latar belakang berbeda pula. Mereka mempunyai sistem kepercayaan masing- masing dalam menjalani kehidupannya. Salah satu hal yang mempengaruhi kepercayaan yang ada dalam struktural masyaraka t adalah kondisi sosial, budaya dan politik  pemerintahan  masyarakat yang ada dalam suatu suku. 

   Salah satu daerah yang kian mejadi refleksi kita bersama karena keanekaragamannya adalah  Sulawesi Selatan. Daerah tersebut telah didiami oleh empat suku yang paling tersohor, yaitu suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Suku- suku ini terbentuk karena faktor sosial, budaya dan politik pemerintah masyarakat. 

    Diperkirakan pada abad ke-17 terutama di daerah pedesaan, disana masih berkembang kepercayaan tentang dunia gaib yang berasal dari religi  zaman pra islam. Ada beberapa dari masyarakat suku Bugis yang walaupun menganut agama islam, akan tetapi pada inti kepercayaannya terdapat konsep-konsep kepercayaan yang lama. Hal tersebut bisa dilihat pada kaum To-lotang dengan konsep dewa tertinggi yang disebut To-palanroe (sure galigo). Ada tiga masyarakat yang masih mempertahankan eksistensinya yang khas ditengah-tengah masyarakat mayoritas beragama Islam. Pertama adalah masyarakat penganut Kepercayaan Mappurondo di Kabupaten Mamasa. Kedua adalah masyarakat penganut Kepercayaan Ammato di Kabupaten Bulukumba, dan ketiga adalah masyarakat penganut Kepercayaan Tolotang di Segeri Mandalle Kabupaten  Pangkep dan Sidrap. 

    Komunitas bissu yang terpusat di desa segeri Mandalle, Kabupaten Pengkajene Kepulauan sebagai penganut Tolotang mempercayai apa yang disebut dengan Dewata Seuwal (Tuhan Yang Maha Esa). Kepercayaan Tolotang ini telah diwariskan secara turun- temurun, dan menjadi milik bersama kepercayaan masyarakat. Kebudayaan asli yang dijiwai oleh kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu didasari oleh pandangan hidup yang bersifat kosmologi. 

    Akibat arus pengaruh moderniasi yang semakin pesat, jelas memberikan pengaruh terhadap segala aspek kehidupan masyarakat. Nilai- nilai yang telah lama berkembang semakin terseret dan terdesak, tergantikan oleh nilai- nilai baru. Kedatangan agama- agama baru telah memasuki wilayah local dengan begitu cepat. Akibatnya wujud spirit tradisional berangsur-angsur terkikis, teradaptasi, berbaur dan pada akhirnya hilang pada belantara zaman. Tampaknya hal inilah yang menjadi tantangan masyarakat  Bissu di Segeri. 
    Kemudian ada lima hal yang Bissu pegang yaitu tettang, lempu, tongeng, temmappasilaingen dan tammangingngi. Tentang atau  konsekuen,  suatu kebaikan haru bertanggung jawab atas pelaksanaannya.  Lempu atau jujur mengandung empat unsur yaitu jujur terhadap Dewata Seuwac, diri sendiri,  sesama manusia,  dan jujur terhadap binatang dan tumbuh- tumbuhan. Tongeng atau benar ialah memegang teguh pada kebenaran. Temmappasilaingen atau adil yang mengandung makna segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya dengan tidak berat seelah. Tammangingngi atau tabah mengandung makna menempuh perjuangan hidup harus sabar dan tabah. Keperayan inilah yang menjiwai kehidupan sosial budaya yang berkembang di masyarakat, tentu dengan nilai-nilai dan sifat lokalnya yang unik. 

    Konsep yang mendasari masyarakat Bugis Makassar tidak terlepas dari strata sosialnya. Hal terebut dianggap penting, karena untuk mencari latar belakang pandangan hidup, watak dan sifat- sifat yang mengacu pada masyarakat. Empat suku bangsa tersebut telah menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan tradisi mereka. Sehingga mereka mampu bertahan dengan jangka waktu yang panjang. 

     Salah satu kerajaan yang bernah Berjaya adalah Kerajaan Bone yang menguasai daerah- daerah Bugis, saat ini sudah menjadi kabupaten Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Bulukumba, Sinjai, Barru dan Pangkep. Daerah yan disebut terakhir inilah yang menjadi pusat Bissu hingga saat ini. 

    Nilai- nilai yang berlaku pada Kerajaan Bone mempunyai sistem dan pola tersendiri. Seperti dalam upacara kenegaraan maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Adapun strata sosial masyarakatnya terbagi menjadi tiga, yaitu masyarakat bangsawan, orang merdeka dan rakyat jelata. Namun strata tersebut seiring dengan perkembangan zaman sudah terkikis, karena masyarakat yang ada saling berbaur satu sama lain. Sehingga taka da lagi perbedaan strata diantar mereka. 

    Dengan adanya kemajuan dalam bidang pendidikan, hal tersebut memberikan pengaruh pula terhadap masyarakat. Seeorang yang memperoleh gelar terpandang dalam masyarakat adalah peranan yang diperoleh baik karena katurunan maupun usahanya sendiri. Namun demikianlah, masalah keturunan masih memperkuat kedudukan seseorang dalam pandangan yang ada di masyarakat. Seseorang yang berasal dari keturunan non-bangsawan mendapatkan jabatan formal. Ia kana mendapat penghargaan berupa penghormatan, sama seperti yang diberikan  kepada bangsawan dengan mendapat panggilan karaeng atau puang. 

    Disamping masyarakat yang mendapat gelar yang telah tersebut diatas, masih ada sekelompok masyarakt yang mempunyai tugas khusus. Mereka disebut bissu, berasal dari masyarakat biasa namun mereka mempunyai tugas khusus. Mereka juga bertempat tinggal di daerah yang khusus pula,  yang sekaligus menjadi tempat penyimpanan benda- benda kerajaan. Kelompok ini dipimpin oleh ketua yang mendapatkan gelar puang matoa . Peranan dan fungsi  sosial bissu yaitu pemelihara, perawat dan pembawa arajang, Pemimpin upacara ritual, Sanro (dukun) dan guru bagi orang- orang  yang akan menikah.

Doc : Internet
"bissu saat memimpin upacara ritual bagi orang yang menikah"

     Penyelenggaraan upacara adat yanga ada mencerminkan sistem sosial budaya yang berimbas menghasilkan produk budaya, salah satu hasilnya adalah  pertunjukan tari yang disebut Sere Bissu. 
Sebelum islam mauk di Sulawesi Selatan, orang- orang Bugis Makassar telah mengenal tari yang mereka sebut sere (lontara galigo). Tarian yang dilakukan oleh para bissu dalam upacara- upacara suci menyangkut aliran kepercayaan lama, yang mereka sebut Dewata Seuwae. Upacara suci yang bertahan hingga saat ini adalah mappalili, yaitu salah satu adat masyarakat yang dilakukan setiap tahun di desa Segeri Mandalle Kabupaten Pangkep. 

     Pertunjukan Sere Bissu didalam upacara adat masyarakat Segeri Mandalle tidaklah berdiri sebagai suatu sistem yang independen. Melainkan suatu bagian yang menyatu dari keseluruhan jaringan yang ada dan berlaku bagi masyarakat penyangga pertunjukan tersebut. Dalam kondisi sosial budaya masyarakat mengalami perubahan yang begitu ekstensif, Sere Bissu tampil sebagai genre tari traditional yang lebih adaptatif terhadap lingkungannya. Namun meskipun begitu, kehadiran puang matoa di dalam pertunjukan tak dapat dikesampingkan walaupun hanya sebagai pelengkap, tapi kedudukannya justru paling penting.  Lebih jauh para bissu dianggap sebagai mediator (shaman). 

    Sere Bissu mempunyai fungsi sebagai sarana upacara, dimana ia menjdai bagian dari upacara Mapalili dan upacara lainnya dan fungsi sebagi tontonan yang disajikan dalam acara khusus para Bissu. 

    Pada kenyataannya kehidupan Sere Bissu dewasa ini terkait dengan kedudukan tari terebut  di dalam masyarakat. Kehadirannya di masyarakat tidak sekedar untuk tontonan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain yang dirasakan perlu dalam kehidupan masyarakat. Tetap hidup da berkembang dengan perkembangan zaman. 

  Satu fenomena menarik untuk mengungkap perjalanan Sere Bissu, karena tari ini terbentuk dari simbol dan laku simbolnya yang kemudian menjadi satu arti yang harus terpenuhi di pertunjukan. 

   Lalu kenapa bissu ini sangat menarik untuk kita refleksikan bersama, karena diakui bahwa masyarakat Bissu ini merupakan masyarakat yang berjasa karena mereka menjaga dan melestarikan tradisi Bugis. Dengan menjaga kekayaaan budaya nasional Indonesia, walaupun dengan seiring perkembangan zaman keberadaan mereka tergeser oleh arus globalisasi yang ada, tergeser oleh agama- agama konvensioanl di Indonesia. 

    Bissu adalah anggota masyarakat yang biasa, tetapi mereka mempunyai keistimewaan tertentu. Pada dasarnya mereka adalah pria sebagaimana pria lainnya, namun dalam dirinya terjadi suatu perubahan sehingga ia berbuat sebagai suara wanita, berpakaian seperti wanita n bertindak sebagai wanita. Mereka tinggal disebuah rumah yang diebut sebagai istana Rajang, dipimpin oleh seorang bissu yang paling tua  dan berpengalaman yang tentu keahliannya melebihi bissu yang lainnya. 

   Tidak semua pria atau laki-laki yang mempunyai sifat seperti wanita dapat menjadi bissu. Mereka yang tidak menjadi bissu disebut calabai atau kawe-kawe atau dalam istilah umum disebut waria atau wadam. Para bissu inilah yang dibawah pimpinan puang matoa dan puang lolo memimpin upacara mappalili. 

    Untuk menjadi bissu tidaklah mudah, seorang waria yang akan menuju menjadi bissu haru terlebih dahulu mendapat panggila halus, mereka pun melaporkan hal ini kepada puang matoa atau kepada puang lolo. Setelah diketahui oleh salah satu dari keduanya, mereka pun diberi bimbingan khusus. Hal-hal mengenai tugasnya maupun kewajibannya sebagai bissu. Aktifitas untuk menuju menjadi bissu yang sebenarnya mereka lakukan di istana arajang dengan upacara yang sakral, dan tentunya hanya merekalah yang tahu. 

    Didalam “Sure Podawa-adaeni Bicaranna latowa” disebutkan tentang yang disebut manusia. Yakni : 

Pahami benar-benar yang disebut Adat, Pelihara dan hormati ia, sebab adat itulah yang disebut manussia, jnikalau engkau tak memahami yang diebut adat maka tak jadilah orang diebut manusia. Sebab tidaklah pokok pangkal adat itu melainkan kejujuran, sambil memperkuat takutmu pada Dewata, ditambah dengan rasa malu yang mendalam. Sedang orang yang amat takutnya kepada Dewata lagipula mendalam rasa malunya , maka dia itulah manusia yang tak pernah terpisah dari kejujuran (lontara wajo). 

    Secara filosofi ungkapan lontara diatas mempersonifikasikan adat sebagai manusia yang harus dipelihara dan dihormati. Ia sebagai manusia yang berhiaskan nilai-nilai kejujuran, ketakwaan dan rasa malu. Hal-hal itulah yang diajarkan para bissu kepada calon mempelai wanita. 

     Asal mula arajang atau kalompoang yang bersifat ilahi dan historis telah menjelmakan suatu kekuaaan sakral yang memberikan pada pihak yang memegangnya supremasi dan kemampuan untuk memerintah. Sebagai tanda hormat, masyarakat menyediakan tanah terbaik yang menjadi hak penuh bagi kalompoang. 
Dalam hal pemeliharaan benda- benda keramat, bissu dengan wewenang kekuatan ilahi telah menempatkan dirinya sebagai pusat pengendali kekuatan masyarakat. Sekaligus menjadi imam yang mengkultuskan kekuatan ilahi. Dalm hal inilah penduduk senantiasa menunjukkan ketaatan, kepatuhan, hormat serta menyatakan dirinya sebagai pengabdi kepada pemimpin. 

 Ditengah- tengah perkembangan zaman kita menyadari bahwa modernisasi semakin pesat. Disini peran interseksual seorang Bissu yang tidak biasa dalam masyarakat Bugis tradisional tidak secara eksklusif berhubungan dengan anatomi tubuh mereka, tetapi peran mereka dalam kebudayaan Bugis. Identitas ketiadaan gender mereka dan karakter berbagai jenis yang tidak dapat dialokasikan secara akurat kepada jenis kelamin apapun. Hal tersebutlah yang menjadi pertanyaan bagi sebagian orang. Tapi telah diperjelas pada pemaparan sebelumnya.  Terukti dalam cara berpakaian para bissu, ia mengenakan sejenis gaun dan pakaian yang tidak dikenakan oleh jenis kelamin lain, namun juga memasukkan elemen dan karakter pakaian “pria” dan “perempuan” yang menjelaskan mengapa golongan Bissu tidak disebut sebagai waria. Mereka hanya diizinkan untuk memakai pakaian yang seuai untuk kasta gender mereka. 
Peranan Bissu yang tergolong unik ini sangat erat kaitannya dengan status keterbatasan gender mereka. Namun Indonesia adalah negara yang dipenuhi dengan berbagai keragaman, tentu tradisi yang ada sudah selayaknya dilestarikan. Terlepas dari segala pikiran negatif seseorang terhadap seorang bissu, tapi bissu tetaplah bissu yang telah mengabdikan dirinya untuk tetap menjaga tradisi yang ada di Indonesia. 
Sumber :
Buku Jurnal Dunia 
BPPS-UGM 10(1A) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Dunia di Balik Jeruji Besi

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu,  melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik." Aku dalam novel yang ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna ini digambarkan oleh seekor beruang. Besar, kuat dan memiliki bulu yang amat tebal, Baltazar namanya. Ia ditangkap oleh para pemburu, dirumahkan di kebun binatang Cile. Sejak saat itu kebebasannya dirampas, kehidupannya terusik oleh ulah para penjaga. Baltazar digambarkan sebagai beruang yang tak biasa. Ia memiliki pemikiran yang arif, selera humornya yang manusiawi, serta sudut pandangnya yang unik. Dari balik jeruji besi itu,  ia merenungi situasinya untuk melucuti masalah-masalah kemanusiaan. Seperti halnya kekuasaan, penghambaan dan kebebasan. Penulis memberikan ruang beruang untuk bisa berfikir, layaknya manusia. Kelihaian penulis dalam menggambarkan perasaan Baltazar yang hidup di bawah tekanan, menerima...

Kasih Sayang atau Kepalsuan ?

    Dok : internet  Kasih Sayang atau kepalsuan?   Jangan-jangan hanya nafsu biologi saja, hati-hati tuh          Seketika itu saya terkesima dengan sebuah tulisan dalam sepucuk surat yang saya temukan di lemari si Diah “Aku sayang kamu, hidupku dan matiku hanya untukmu…”. Sontak saya langsung ketawa saja. Inikah yang namanya cinta ? inikah yang namanya kasih sayang ? atau ini hanya sebuah rayuan gombal dari jutaan laki-laki yang mengejar Diah ?, begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak pikiran. Namun yang ingin saya ambil titik poinnya sii ya di kata “cinta dan kasih sayang” ini hehe. Banyak sekali orang yang tanggal 14 Februari melaksanakan perayaan hari Valentine, perayan ini sudah menjadi agenda wajib sepertinya dikalangan manapun. Biasanya sih ya, hari Valentine ini menjadi ajang untuk melakukan hal lebih kepada pasangan hidupnya. Termasuk melakukan hal yang tidak sewajarnya, contohnya saja terjadi pesta sexs, ciuman di...

Kala

dok : Internet                                                                                                         KALA Tetes airmata pun tak mengubah keadaan Kala itu Beribu rangkai kata kau ucap Tiada daya aku berkata Sempatkah kau menggenggam, Tanganku begitu dingin Tak juga kau tenangkan. Oh tuhan, Ternyata dia lebih memilih pergi Dibandingkan bertahan Ah, Kesakitan lagi Seperti  tak ada batasnya, Tetes airmata pun tak mengubah keadaan Kala itu Beribu rangkai kata kau ucap Tiada daya aku berkata Sempatkah kau menggenggam, Tanganku begitu dingin Tak juga kau tenangkan, Oh tuhan, Ternyata dia lebih memilih pergi Dibandingkan bertahan Ah, Kesakitan lagi Sepert...