Duka yang paling dalam adalah perihal pernah mencintaimu. Mata api kebohongan, melalui kacamata kecilmu.
Pembicaraan itu tercipta dari mulut para sesumbar. Lelaki yang memakai jam tangan hitam, dan ciri rambut ikal di kepalanya. Kita menciptakan pembicaraan seperti sebuah aliran. Panjang dan terus mengalir.
Kau hidup berpangku pada tangan dan kakimu. Serta pada motor merahmu, yang sering kali kau bawa kemana-mana.
Aku perempuan. Yang hanya bisa berjalan dengan kedua kakiku.
Serta hidup dengan keyakinan dan doa orang tua.
Setelah pembicaraan yang mengalir itu, tiba-tiba tidak pernah ada perbincangan diantara kita.
Kau berjalan balik, dan aku tetap berjalan lurus.
Kacamatamu, ternyata...
Penuh tipu daya.
Semarang, 3 Juli 2019

Komentar
Posting Komentar