Langsung ke konten utama

Kasih Sayang atau Kepalsuan ?

   
Dok : internet 


Kasih Sayang atau kepalsuan?  

Jangan-jangan hanya nafsu biologi saja, hati-hati tuh

         Seketika itu saya terkesima dengan sebuah tulisan dalam sepucuk surat yang saya temukan di lemari si Diah “Aku sayang kamu, hidupku dan matiku hanya untukmu…”. Sontak saya langsung ketawa saja. Inikah yang namanya cinta ? inikah yang namanya kasih sayang ? atau ini hanya sebuah rayuan gombal dari jutaan laki-laki yang mengejar Diah ?, begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak pikiran. Namun yang ingin saya ambil titik poinnya sii ya di kata “cinta dan kasih sayang” ini hehe. Banyak sekali orang yang tanggal 14 Februari melaksanakan perayaan hari Valentine, perayan ini sudah menjadi agenda wajib sepertinya dikalangan manapun. Biasanya sih ya, hari Valentine ini menjadi ajang untuk melakukan hal lebih kepada pasangan hidupnya. Termasuk melakukan hal yang tidak sewajarnya, contohnya saja terjadi pesta sexs, ciuman dimana-mana, pelukan dan apalah itu. Hello, seperti apakah dunia sekarang ? kebebasan ada dimana- mana, lalu  etika dan moral mau ditempatkan dimana coba. Inilah yang sebegitu mengganjal, harusnya kasih sayang itu ngga Cuma untuk pasangan saja. Sebenernya setiap hari kita juga udah menebarkan kasih sayang kok, kepada bapak ibu dirumah, kakak, adik, nenek, guru, kawan sampai lawanmu. So, ngga ada hari pengkhususan buat kasih sayang sebenarnya, terlebih lagi jika kegiatan itu hanya diisi oleh hal-hal yang negatif pula.

        Hal- hal yang tidak selayaknya tentu tidak boleh dunk dilakukan, apalagi kita punya syariat islam. Udah tertera jelas bagaimana hukuman bagi orang-orang yang melakukan perbuatan zina. Perbuatan seperti itulah yang harus kita tingalkan, karena hanya akan membawa dalam kesesatan dan kedzaliman saja.  Terlebih lagi sudah dijelaskan dalam al Qur’an Surah Al Isra ayat 32 yang artinya :

“ Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”

Sudah sangat jelas dunks guys. Kita bener- baner harus membedakan mana itu nafsu duniawi. Banyak sekali manusia yang sudah terjerumus dalam nafsu biologinya. Dengan melakukan perbuatan yang dilarang tersebut.
Saya tidak akan bercerita tentang bagaimana sebenarnya sejarah hari valentine itu, karena pasti sudah banyak kajian yang membahasnya.

        Namun kita sebagai generasi penerus bangsa yang bermartabat dan terkhususnya umat islam, baiknya untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama dan melanggar etika yang ada. Jika kebebasan terus saja menyebar tiada hentinya, lalu bagaimana nasib generasi cucu-cucu kita ? mau dibawa kemana mereka ? selagi yang muda bisa , mengapa tidak. Kita hanya bisa memulainya dari kita sendiri untuk selalu melakukan hal-hal yang positif dan tentunya lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Tinggal bagaimana kita mau memilih mau dijalan yang salah atau dijalan yang benar , all is back to yourself. Oh iya, penutup kata- kata terakhir saya sih ya, lebih baik halalin aja deh si dia, daripada kepleset. hihihi



By : Fatimatur Rohmah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Dunia di Balik Jeruji Besi

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu,  melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik." Aku dalam novel yang ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna ini digambarkan oleh seekor beruang. Besar, kuat dan memiliki bulu yang amat tebal, Baltazar namanya. Ia ditangkap oleh para pemburu, dirumahkan di kebun binatang Cile. Sejak saat itu kebebasannya dirampas, kehidupannya terusik oleh ulah para penjaga. Baltazar digambarkan sebagai beruang yang tak biasa. Ia memiliki pemikiran yang arif, selera humornya yang manusiawi, serta sudut pandangnya yang unik. Dari balik jeruji besi itu,  ia merenungi situasinya untuk melucuti masalah-masalah kemanusiaan. Seperti halnya kekuasaan, penghambaan dan kebebasan. Penulis memberikan ruang beruang untuk bisa berfikir, layaknya manusia. Kelihaian penulis dalam menggambarkan perasaan Baltazar yang hidup di bawah tekanan, menerima...

Kala

dok : Internet                                                                                                         KALA Tetes airmata pun tak mengubah keadaan Kala itu Beribu rangkai kata kau ucap Tiada daya aku berkata Sempatkah kau menggenggam, Tanganku begitu dingin Tak juga kau tenangkan. Oh tuhan, Ternyata dia lebih memilih pergi Dibandingkan bertahan Ah, Kesakitan lagi Seperti  tak ada batasnya, Tetes airmata pun tak mengubah keadaan Kala itu Beribu rangkai kata kau ucap Tiada daya aku berkata Sempatkah kau menggenggam, Tanganku begitu dingin Tak juga kau tenangkan, Oh tuhan, Ternyata dia lebih memilih pergi Dibandingkan bertahan Ah, Kesakitan lagi Sepert...