Dok : internet
KUAS
Dalam hidup ini sebaiknya berapa kali manusia mesti jatuh cinta. Mengapa harus bernama cinta dan mengapa pula harus jatuh. Bukankah sesuatu yang jatuh seharusnya rasanya sakit dan sesuatu yang sakit itu tak ingin dirasakan oleh siapapun. Aku tak pernah melihat cinta, tapi bukankah cinta memang sesuatu yang tak bisa dilihat. Aku tak pernah mencium bau cinta, tapi bukankah cinta memang sesuatu yang tak bisa dicium. Aku juga tak pernah dipegang oleh cinta, tapi bukankah cinta tak punya tangan. Benarkah cinta bisa membuat manusia menjadi sangat bodoh, aku tak tau karena kau juga tak pernah merasakan jadi manusia.
Seorang yang sehari-hari merawat dan menggunakanku untuk melukis adalah seorang laki-laki, tubuh tegap yang wajah tampannya selalu diselimuti dengan kemurungan dan keputus asaan.
Suatu hari, aku pernah digunakan untuk melukis seorang wanita dengan wajah sangat cantik. Manusia wanita yang aku tau adalah manusia yang rambutnya panjang dan rambut yang aku ketahui adalah warna hitam yang digoreskan di bagian paling atas tubuh manusia. Sepertinya cinta jugalah yang mempengaruhi otak kanan dan kirinya, sehingga laki-laki itu melukis wajah wanita itu dengan tersenyum, tampak bahagia sekali. Wanita dalam lukisan itu bernama Mey, aku mengetahui namanya karena dia sering mengatakan “Aku mencintaimu Mey”, kadang-kadang dia juga mengatakan “Aku sangat merindukanmu Mey”. Aku mendengar semua itu karena aku diletakkan di samping lukisan wanita itu. Pernah juga dia mengajaknya bercerita “Hari ini aku melihatmu sedang duduk di taman Mey, kau anggun sekali dengan baju merah muda yang kau kenakan, rambutmu dibiarkan terurai disapu angin, nampaknya kau sedang membaca sebuah buku cerita yang sangat menarik, sesekali bibirmu tersenyum, sungguh sangat manis”.
Suatu hari dia berkata “Tadi pagi aku mendengar suaramu di radio kampus, merdu sekali, memutarkan lagu-lagu romantis semakin membuat hatiku tak pernah memberi tempat kepada wanita lain selain dirimu Mey”. Tapi, wanita dalam lukisan itu tetap diam dan tetap tersenyum.
Begitulah laki-laki itu menceritakan, dia hanya menceritakan kalau dia melihat dan mendengar wanita itu. Tak pernah sekalipun dia berkata “Kita bercerita banyak hal hari ini” atau “Kita duduk bersama di bangku taman sambil berpegangan tangan” tak pernah juga dia mengatakan “Kencan hari ini menyenangkan Mey, suasana restoran sangat nyaman, masakannya juga enak”.
Aku menduga kalu lelaki itu hanya sekali jatuh cinta dalam hidupnya, dan cinta itulah yang membuatnya menjadi tidak waras lagi. Haruskah seperti itu cara manusia mencintai manusia?.
Ingin sekali aku menghiburnya dengan membuatkannya sebuah lukisan yang lucu agar aku bisa melihat senyumnya yang hilang. Tapi tak bisa, aku hanyalah sebatang kuas lukis yang selalu diam dalam sunyi dan tak bergerak dalam ramai. Manusia sering menyebutku sebagai benda mati, padahal tidak, aku diberi perasa dan perasaan oleh Tuhan, tapi sayangnya tuhan tak memberikanku kekuatan untuk menggerakkan diriku sendiri.
Dalam suatu malam yang gelap seakan tak ada cahaya lain selain cahaya kegelapan, padahal aku tau kalau gelap bukanlah sebuah cahaya, laki-laki itu barkata kepada lukisan wanita itu sambil marah dan menangis, “Mengapa kau menghianatiku Mey” aku melihat mata laki-laki itu dipenuhi dengan kebancian dan kemarahan yang belum pernah aku lihat selama ini. Tapi, wanita dalam ukisan itu tak menjawab, diam saja, bibirnya tak berucap satu katapun, dia hanya tetap tersenyum, ingin sekali aku memarahinya, agar ia menjawab pertanyaan laki-laki itu, tapi tak bisa.
Setelah itu laki-laki itu pergi dari rumah, meninggalkan aku dan lukisan wanita itu. Tak ada yang bisa kulakukan untuk bisa membujuk lukisan wanita it menjadi hidup agar dia menjelaskan kepada laki-laki itu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah beberapa saat, laki-laki itu kembali kerumah sambil menenteng sebotol minuman. Aku melihat wajahnya yang kacau saat ini, bicaranya ngawur, rambut dan wajahnya berantakan. Ku cermati botol minuman yang dia bawa “Wine” tulisan yang aku baca di botol itu. Disela-sela bicaranya yang tak karuan itu, dia kembali berbicara kepada lukisan wanita itu “mengapa kau tega menghianatiku Mey” ucapnya puluhan kali. “mengapa kau malah memilih laki-laki lain dibanding aku Mey”.
Aku sekarang menganggap dia adalah laki-laki bodoh yang hanya terpaku kepada seorang wanita yang bahkan wanita itu tak menganalnya. Laki-laki bodoh yang terbius dengan cinta, hingga ia tak mampu lagi mengatakan cintanya pada wanita itu. Laki-laki bodoh yang dibutakan dengan cinta, hingga ia tak mampu lagi melihat wanita lain dalam hidupnya dan laki-laki bodoh yang terjerat oleh cinta hingga membuatnya lumpuh tak bisa kemana-mana.
Dalam mabuknya yang semakin menjadi-jadi, laki-laki itu ngamuk tak karuan, ia membuang semua yang ada di meja dekat ranjangnya, melempar semua yang ada didekatnya kemudian ia mendekati aku dan lukisan itu, ia melemparkan ku jauh dari tempatku, tapi aku masih sempat melihatnya berdiri mematung didepan lukisan wanita itu, memandangnya puluhan detik, kadang menangis kadang pula tertawa terbahak-bahak. Aku pikir sekarang ia sudah tak mabuk lagi, tapi telah menjadi gila. Gila karena sebuah minuman, ah bukan, gila karena cinta.
Dia mengambil lukisan itu dan membantingnya berkali-kali, tapi tak ada yang berubah sedikitpun dari senyumannya.
Laki-laki bodoh itu mengambil pisau dari laci meja dekat ranjangnya, mungkin ingin sekali ia merobek-robek kanvas lukisan itu, tapi aku melihat wajah cintanya lebih dominan dibanding dengan wajah marahnya. Lalu ia memutar pusau itu hingga ujungnya mengarah ke perutnya. Sambil tetap diantara marah, menangis dan tertawa, dengan cepat ia menusukkan pisau itu kearah perutnya. Laki-laki itu tak menjerit, ia menahan kesakitan oleh tusukan itu, ah bukan karena tusukan itu menurutku, tapi pasti lagi-lagi karena cinta.
Tubuh tegapnya kini roboh ke lantai, cairan bagai tinta merah tua mengalir deras dari perutnya, mengalir sampai di lukisan yang berada didekatnya dan tak bisa kupercaya bahwa senyum wanita dalam lukisan itu mulai meredup, air mata mulai menetes dari matanya. Perlahan tapi pasti lukisan itu bangkit dari tempatnya, sedangkan laki-laki bodoh itu kini sudah tak bernyawa.
Oleh : Mato Fani
KUAS
Dalam hidup ini sebaiknya berapa kali manusia mesti jatuh cinta. Mengapa harus bernama cinta dan mengapa pula harus jatuh. Bukankah sesuatu yang jatuh seharusnya rasanya sakit dan sesuatu yang sakit itu tak ingin dirasakan oleh siapapun. Aku tak pernah melihat cinta, tapi bukankah cinta memang sesuatu yang tak bisa dilihat. Aku tak pernah mencium bau cinta, tapi bukankah cinta memang sesuatu yang tak bisa dicium. Aku juga tak pernah dipegang oleh cinta, tapi bukankah cinta tak punya tangan. Benarkah cinta bisa membuat manusia menjadi sangat bodoh, aku tak tau karena kau juga tak pernah merasakan jadi manusia.
Seorang yang sehari-hari merawat dan menggunakanku untuk melukis adalah seorang laki-laki, tubuh tegap yang wajah tampannya selalu diselimuti dengan kemurungan dan keputus asaan.
Suatu hari, aku pernah digunakan untuk melukis seorang wanita dengan wajah sangat cantik. Manusia wanita yang aku tau adalah manusia yang rambutnya panjang dan rambut yang aku ketahui adalah warna hitam yang digoreskan di bagian paling atas tubuh manusia. Sepertinya cinta jugalah yang mempengaruhi otak kanan dan kirinya, sehingga laki-laki itu melukis wajah wanita itu dengan tersenyum, tampak bahagia sekali. Wanita dalam lukisan itu bernama Mey, aku mengetahui namanya karena dia sering mengatakan “Aku mencintaimu Mey”, kadang-kadang dia juga mengatakan “Aku sangat merindukanmu Mey”. Aku mendengar semua itu karena aku diletakkan di samping lukisan wanita itu. Pernah juga dia mengajaknya bercerita “Hari ini aku melihatmu sedang duduk di taman Mey, kau anggun sekali dengan baju merah muda yang kau kenakan, rambutmu dibiarkan terurai disapu angin, nampaknya kau sedang membaca sebuah buku cerita yang sangat menarik, sesekali bibirmu tersenyum, sungguh sangat manis”.
Suatu hari dia berkata “Tadi pagi aku mendengar suaramu di radio kampus, merdu sekali, memutarkan lagu-lagu romantis semakin membuat hatiku tak pernah memberi tempat kepada wanita lain selain dirimu Mey”. Tapi, wanita dalam lukisan itu tetap diam dan tetap tersenyum.
Begitulah laki-laki itu menceritakan, dia hanya menceritakan kalau dia melihat dan mendengar wanita itu. Tak pernah sekalipun dia berkata “Kita bercerita banyak hal hari ini” atau “Kita duduk bersama di bangku taman sambil berpegangan tangan” tak pernah juga dia mengatakan “Kencan hari ini menyenangkan Mey, suasana restoran sangat nyaman, masakannya juga enak”.
Aku menduga kalu lelaki itu hanya sekali jatuh cinta dalam hidupnya, dan cinta itulah yang membuatnya menjadi tidak waras lagi. Haruskah seperti itu cara manusia mencintai manusia?.
Ingin sekali aku menghiburnya dengan membuatkannya sebuah lukisan yang lucu agar aku bisa melihat senyumnya yang hilang. Tapi tak bisa, aku hanyalah sebatang kuas lukis yang selalu diam dalam sunyi dan tak bergerak dalam ramai. Manusia sering menyebutku sebagai benda mati, padahal tidak, aku diberi perasa dan perasaan oleh Tuhan, tapi sayangnya tuhan tak memberikanku kekuatan untuk menggerakkan diriku sendiri.
Dalam suatu malam yang gelap seakan tak ada cahaya lain selain cahaya kegelapan, padahal aku tau kalau gelap bukanlah sebuah cahaya, laki-laki itu barkata kepada lukisan wanita itu sambil marah dan menangis, “Mengapa kau menghianatiku Mey” aku melihat mata laki-laki itu dipenuhi dengan kebancian dan kemarahan yang belum pernah aku lihat selama ini. Tapi, wanita dalam ukisan itu tak menjawab, diam saja, bibirnya tak berucap satu katapun, dia hanya tetap tersenyum, ingin sekali aku memarahinya, agar ia menjawab pertanyaan laki-laki itu, tapi tak bisa.
Setelah itu laki-laki itu pergi dari rumah, meninggalkan aku dan lukisan wanita itu. Tak ada yang bisa kulakukan untuk bisa membujuk lukisan wanita it menjadi hidup agar dia menjelaskan kepada laki-laki itu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah beberapa saat, laki-laki itu kembali kerumah sambil menenteng sebotol minuman. Aku melihat wajahnya yang kacau saat ini, bicaranya ngawur, rambut dan wajahnya berantakan. Ku cermati botol minuman yang dia bawa “Wine” tulisan yang aku baca di botol itu. Disela-sela bicaranya yang tak karuan itu, dia kembali berbicara kepada lukisan wanita itu “mengapa kau tega menghianatiku Mey” ucapnya puluhan kali. “mengapa kau malah memilih laki-laki lain dibanding aku Mey”.
Aku sekarang menganggap dia adalah laki-laki bodoh yang hanya terpaku kepada seorang wanita yang bahkan wanita itu tak menganalnya. Laki-laki bodoh yang terbius dengan cinta, hingga ia tak mampu lagi mengatakan cintanya pada wanita itu. Laki-laki bodoh yang dibutakan dengan cinta, hingga ia tak mampu lagi melihat wanita lain dalam hidupnya dan laki-laki bodoh yang terjerat oleh cinta hingga membuatnya lumpuh tak bisa kemana-mana.
Dalam mabuknya yang semakin menjadi-jadi, laki-laki itu ngamuk tak karuan, ia membuang semua yang ada di meja dekat ranjangnya, melempar semua yang ada didekatnya kemudian ia mendekati aku dan lukisan itu, ia melemparkan ku jauh dari tempatku, tapi aku masih sempat melihatnya berdiri mematung didepan lukisan wanita itu, memandangnya puluhan detik, kadang menangis kadang pula tertawa terbahak-bahak. Aku pikir sekarang ia sudah tak mabuk lagi, tapi telah menjadi gila. Gila karena sebuah minuman, ah bukan, gila karena cinta.
Dia mengambil lukisan itu dan membantingnya berkali-kali, tapi tak ada yang berubah sedikitpun dari senyumannya.
Laki-laki bodoh itu mengambil pisau dari laci meja dekat ranjangnya, mungkin ingin sekali ia merobek-robek kanvas lukisan itu, tapi aku melihat wajah cintanya lebih dominan dibanding dengan wajah marahnya. Lalu ia memutar pusau itu hingga ujungnya mengarah ke perutnya. Sambil tetap diantara marah, menangis dan tertawa, dengan cepat ia menusukkan pisau itu kearah perutnya. Laki-laki itu tak menjerit, ia menahan kesakitan oleh tusukan itu, ah bukan karena tusukan itu menurutku, tapi pasti lagi-lagi karena cinta.
Tubuh tegapnya kini roboh ke lantai, cairan bagai tinta merah tua mengalir deras dari perutnya, mengalir sampai di lukisan yang berada didekatnya dan tak bisa kupercaya bahwa senyum wanita dalam lukisan itu mulai meredup, air mata mulai menetes dari matanya. Perlahan tapi pasti lukisan itu bangkit dari tempatnya, sedangkan laki-laki bodoh itu kini sudah tak bernyawa.
Oleh : Mato Fani

Komentar
Posting Komentar