![]() |
| Add caption |
Dok : internet
Globalisasi dan Pendidikan Krusial di Indonesia
Sudah tentu pendidikan itu berawal ketika didalam lingkungan keluarga yang memberikan kasih sayangnya tiada terkira, pendidikan sekecil apapun, Dimulai dari ketika ibu memberikan susu kepada anaknya. Ia telah mengajarkan kepada anaknya kasih sayang, Ketika si bayi diajarkan bagaimana merangkak, kemudian mulai berbiara “mama” atau “papa” sampai tahapan terakhir. Pendidikan moral telah orang tua ajarkan kepada sang anak sejak dini. Bahkan ada yang mengatakan sifat atau karakter seorang anak itu tidak jauh dari bagaimana orang tua mendidik dan mengajar anaknya.
Seperti halnya pendidikan yang ada di Indonesia yang selalu mengalami perubahan dalam sistem internal maupun eksternal. Arus globalisasi yang sudah terjadi sejak abad ke 20 memaksa setiap negara termasuk Indonesia untuk menerima kenyataan, seperti masuknya pengaruh luar terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa. Padahal kita semua tahu sejatinya pengaruh itu membawa kemaslahatan atau justru kerusakan kepada setiap bangsa. Tentu setiap hal memang ada sisi positif dan negatifnya. Arti kata “globalisasi” yang saya kutip dalam sebuah web adalah proses integrasi internsional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran dan aspek-aspek kebudayaan lainnya.
( Wikipedia 2015 )
Di Indonesia dalam beberapa kurun waktu ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah-sekolah yang dikenal dengan bilingual school, dengan diterapkannya bahasa asing, seperti bahasa inggris, bahasa arab, bahasa mandarin, dan lain-lain dimana bahasa itu seperti sudah menjadi pelajaran wajib yang harus ada dalam sekolah. Contohnya saja sekolah saya dulu ketika masa putih abu-abu di MAN 1 MAGELANG, menempuh pendidikan di asrama Islamic Boarding School ( IBS) yang berbasis islam selama tiga tahun. Disitu siswa dituntut untuk selalu berbahasa arab dan bahasa inggris. Jika ada satu saja kalimat terdengar dengan bahasa Indonesia lebih-lebih bahasa Jawa, maka siswa akan langsung terkena takzir atau hukuman. Setiap pagi selalu dikasih mufrodat sesuai target yang telah ditentukan oleh pengurus asrama, tujuannya ya positif agar mufrodat itu selalu digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain tingkat SMA sebenarnya juga berbagai jenjang telah dibuka, mulai dari tk sampai perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang membuka program kelas internasional.
Kita semua tahu bahwa zaman semakin modern dan arus globalisasi sangat nampak efeknya, globalisasi pendidikan juga dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja yang berkualitas dan semakin ketat. Dengan dilakukannya globalisasi pendidikan diharapkan masyarakat Indonesia mampu bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA ), mau tidak mau pendidikan di Indonesia harus mengahsilkan lulusan yang siap mental dan siap kerja agar tidak menjadi “budak” orang luar negeri. Pernahkah kamu membayangkan jika penjual bakso di daerah tempat tinggal kita adalah orang Thailand, kemudian yang berjualan di pasar-pasar tradisional itu adalah orang cina semua ? sangat miris bukan. Inilah dampak dari arus globlisasi, apalagi dengan akan diberlakukannya perdagangan yang bebas.
Pendidikan model seperti itu juga membawa siswa untuk terus update teknologi didunia. Siswa diberikan mata pelajaran ketrampilan, otomotif, skill, pengetahuan eksakta dan non eksakta. Ada begitu banyak sekali kemajuan tentunya jika itu terwujudkan semua, walaupun memang semuanya butuh proses. Sisi positif yang lainya juga akan menambah kompetisi antar sekolah, untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan untuk mencari peserta didik. Namun disisi lain selalu saja ada kendala disetiap rencana indah yang dimiliki, kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang megalami perkembangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS ) yang di update terakhir tahun 2014 dalam grafik rumah tangga usaha pertanian 2003 dan 2013 tanaman pangan menunjukkan angka palin tinggi. Ini menunjukkan bahwa msayarakat Indonesia tidak bisa terlepas dari agraria, kita tahu bahwa negara kita adalah negara agraris dengan begitu banyak hasil olahan pertanian. Selain data itu ada pula data tentang Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ( TPAK ) sebesar 66, 16 % dan angka pngangguran sebesar 5, 92 % berdasarkan data terakhir tahun 2003. Ketika melihat realita yang ada, harapan kita semoga saja selalu ada kemajuan dibangsa Indonesia.
Kembali lagi ke pembahasan pendidikan, perkembangan pendidikan bangsa Indonesia memang masih pada level stagnan atau jalan ditempat. Sistem pendidikan yang selalu berubah-ubah, kurikulum yang selalu berubah dan kebijakan- kebijakan yang sangat membingungkan masyarakat. Bagaimana rakyat yang hanya biasa mau berpijak, jika yang dipijaki saja tidak ada pendirian. Hingga saat ini memang belum terjadi pemerataan pendidikan di Indonesia, baik dari sisi pengajar, fasilitas sarana prsarana maupun peserta didik. Ini menjadi masalah yang sangat krusial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan kesenjangan pendidikan di Indonesia adalah sumber daya manusia, infrastruktur, proses pembelajaran yang konvensional dan lemahnya sistem pendidikan di Indonesia.
Oleh karena itu untuk mengahadapi pengaruh kuat globalisasi diperlukan kerjasama yang kuat antar komponen pendidikan yaitu peserta didik, pendidik, keluarga dan lingkungan. Selain itu pemerintah juga berperan sebagai penjamin penyelenggara pendidikan yang berkualitas dan merata di Indonesia. Berkualitas tapi tidak harus mahal, karena masih banyak masyarakat yang berkemampuan sedang di Indonesia. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat Indonesia untuk tidak mendapatkan pendidikan. Pemerintah juga harusnya tetap waspada serta memberikan perhatian khusus terhadap dunia pendidikan agar komersialisasi tidak marak terjadi. Selain penerpan UU serta hukum yang jelas akan sangat membantu masyarakat. Sehingga pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan dan optimal.
Oleh : Fatimatur Rohmah 24/02/17 –

Komentar
Posting Komentar