dok : Internet
Budaya atau membudayai Politik
dan Pemimpin
Kopi malam ini menemani
sedikit bincngan saya dengan mbak July, hehe. Yups, dia adalah mahasiswi
jurusan FEBI angkatan 2013 yang telah wisuda pada akhir Januari kemaren. Bincangan
kami kali ini sedikit membahas tentang politik, hehe ya secara tanggal 15
Februari 2017 ini kan lagi rame-ramenya karena akan diadakan pemilu Gubernur di 7 Provinsi, Bupati di 76 Kabupaten
dan Wali Kota di 18 Kota. Warga akan memilih calon kepala daerahnya
masing-masing. berdasarkan data KPU, Pilkada serentak 2017 diikuti oleh 620
calon kepala daerah atau 310 pasangan calon. Sebelum sampai hari pelaksanaan
ini sih, mata saya terbelalak ketika melihat sederetan bendera-bendera partai
yang dipasang dijalan dalam perjalanan saya menuju kampung tercinta. Disepanjang
jalan pemandangan itu selalu saja tidak bisa lepas, ya kampanye seperti ini
salah satu siasat dari masing-masing partai.
Ah, berbicara politik sebenarnya saya tidak terlalu ngintrik dan
paham banget sih hehe. Tapi tak apalah negara tanpa politik apa jadinya coba, namun disisi lain selalu ada
sisi yang tabu. Tidak terbayangkan berapa biaya yang telah dikeluarkan masing-
masing partai untuk melakukan kampanye ini, semua itu demi tercapai dan
terwujudnya visi dan misi partai agar mampu memberikan perubahan. Haha, iya sih
banyak sekali janji-janji manis yang selalu ditebarkan ketika musim pemilu
berlangsung. Segala rayuan dalam bentuk financial maupun perkataan mampu
terwujudkan hanya dalam sekejap demi mendapatkan hak suara rakyat. Ironinya negeri
ini, terkadang saya ingin menangis dan tertawa.
Sejatinya tujuan dari pemilu ini adalah agar rakyat mempunyai kepala
daerah yang tepat dan sesuai, yang mampu memajukan daerah provinsi masing-
masing. Jelas itu harapan yang sangat bisa dilogika. Semua orang tentu
menginginkan hal yang terbaik, namun kadang hal tersebut sulit berjalan dengan
mulus karena berbagai faktor. Saya dan masyarakat awam lain tentu tidak tahu
apakah ada sebuah permainan politik disana, atau jangan-jangan politik itu bisa
direkayasa karena politik membutuhkan modal besar dan unggul dalam financial,
jaringan maupun mesin politik . Sistem kandisasi sebelumnya di masing-masing
partai juga memang mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Seorang calon harus
melakukan deal politik untuk mendapatkan kursi calon kepala daerah. Sehingga kemunculan
calon perseorangan merupakan antitesa dari eksklusivisme partai politik. Sungguh
rumit jika berbicara politik, tapi terbukti calon dari masing- masing partai
yang mempunyai modal terbesar dalam
mengerahkan massa dan mempunyai mesin politik akan memiliki hak suara lebih
unggul pula. Semua itu menjadi belenggu
pikiran yang terkadang tidak pernah usai.
Harusnya tercipta kesadaran kalangan politikus bahwa untuk menjadi
pemimpin itu merupakan amanah yang sangat besar, bukan hanya sekedar punya
kekuasaan lantas bangga dan tidak mampu memberikan perubahan pada daerah yang
ia kuasai. Selain itu kesadaran juga
harus muncul dari masyarakat untuk memilih mana pemimpin yang benar- benar amanah.
Hal ini mengingatkan saya pada sebuah hadis Imam Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan dari
Abdullah bin Umar sebagai berikut :
“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “ setiap kalian adalah
pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang
dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas
rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban
atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin didalam urusan rumah tangga
suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga
tersebut. Seorang pembantu adalah
pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas
urusan tanggung jawabnya.” ( HR al
Bukhari, Shahih Al Bukhari, IV/ 6, hadits no. 2751 dan HR Muslim, Shahih
Muslim, VI/ 7, hadits no 4828)
Tentu sudah sangat jelas apa kandungan yang berada didalamnya,
sungguh menjadi pemimpin mempunyai tugas yang amat berat. Teruntuk para
pemimpin dimanapun berada, semoga selalulah amanah.
By : Fatimatur Rohmah

Komentar
Posting Komentar