Langsung ke konten utama

Pancasila Benteng Nasionalisme



dok : internet


Pancasila Benteng Nasionalisme

 
Setelah kekalahan Jepang terhadap tentara sekutu membuat bangsa Indonesia mampu bangun dari keterpurukannya. Kemerdekaan diperoleh, kemudian bangsa Indonesia mulai menata sistem ketatanegaraannya. Termasuk dengan menentukan pedoman falsafah negara yang tidak lain adalah  Pancasila. 

Pada saat ini bangsa Indonesia bisa dibilang tinggal menikmati hasil jerih payah dari perjuangan para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Namun karena kenikmatan itu, justru terkadang membuat sebagian masyarakat terlena. Pada era yang sungguh termanajakan oleh teknologi membuat kejatahan mampu menembus dengan mudahnya. Oleh karena itu bangsa Indonesia perlu sebuah pertahanan yang kuat untuk memproteksi negara dari segala hal yang membuat kekacauan dan keributan. 

Pertahanan yang sesungguhnya tidak hanya secara fisik, namun dengan adanya sebuah fondasi atau pijakan dasar kita bertindak mampu memperkuat pertahanan kita sebagai bangasa Indonesia dan tak lain pertahanan itu bersumber dari Pancasila. Inilah yang perlu diperhatikan, apabila lima dasar sila Pancasila benar-benar di realisasikan dan terwujudkan akan membuat pertahanan Indonesia semakin kuat. Dengan realita pluralitas yang ada pada negara Indonesia, terbukti dengan adanya Pancasila sebagai dasar ideologi mampu membentengi negara dari segala tindak laku yang tidak benar. Karena pancasila sendiri lahir dari roh  masyarakat yang ada pada masyarakat Indonesia. 

Sebagai generasi penerus mari kita jadikan Pancasila sebagai benteng penguat dan pertahanan nasionalis. Karena sejatinya jati diri bangsa ini tidak akan berarti apa-apa jika tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat hari lahir Pancasila.

Oleh : Fatimatur Rohmah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Dunia di Balik Jeruji Besi

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu,  melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik." Aku dalam novel yang ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna ini digambarkan oleh seekor beruang. Besar, kuat dan memiliki bulu yang amat tebal, Baltazar namanya. Ia ditangkap oleh para pemburu, dirumahkan di kebun binatang Cile. Sejak saat itu kebebasannya dirampas, kehidupannya terusik oleh ulah para penjaga. Baltazar digambarkan sebagai beruang yang tak biasa. Ia memiliki pemikiran yang arif, selera humornya yang manusiawi, serta sudut pandangnya yang unik. Dari balik jeruji besi itu,  ia merenungi situasinya untuk melucuti masalah-masalah kemanusiaan. Seperti halnya kekuasaan, penghambaan dan kebebasan. Penulis memberikan ruang beruang untuk bisa berfikir, layaknya manusia. Kelihaian penulis dalam menggambarkan perasaan Baltazar yang hidup di bawah tekanan, menerima...

Kasih Sayang atau Kepalsuan ?

    Dok : internet  Kasih Sayang atau kepalsuan?   Jangan-jangan hanya nafsu biologi saja, hati-hati tuh          Seketika itu saya terkesima dengan sebuah tulisan dalam sepucuk surat yang saya temukan di lemari si Diah “Aku sayang kamu, hidupku dan matiku hanya untukmu…”. Sontak saya langsung ketawa saja. Inikah yang namanya cinta ? inikah yang namanya kasih sayang ? atau ini hanya sebuah rayuan gombal dari jutaan laki-laki yang mengejar Diah ?, begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak pikiran. Namun yang ingin saya ambil titik poinnya sii ya di kata “cinta dan kasih sayang” ini hehe. Banyak sekali orang yang tanggal 14 Februari melaksanakan perayaan hari Valentine, perayan ini sudah menjadi agenda wajib sepertinya dikalangan manapun. Biasanya sih ya, hari Valentine ini menjadi ajang untuk melakukan hal lebih kepada pasangan hidupnya. Termasuk melakukan hal yang tidak sewajarnya, contohnya saja terjadi pesta sexs, ciuman di...

Kala

dok : Internet                                                                                                         KALA Tetes airmata pun tak mengubah keadaan Kala itu Beribu rangkai kata kau ucap Tiada daya aku berkata Sempatkah kau menggenggam, Tanganku begitu dingin Tak juga kau tenangkan. Oh tuhan, Ternyata dia lebih memilih pergi Dibandingkan bertahan Ah, Kesakitan lagi Seperti  tak ada batasnya, Tetes airmata pun tak mengubah keadaan Kala itu Beribu rangkai kata kau ucap Tiada daya aku berkata Sempatkah kau menggenggam, Tanganku begitu dingin Tak juga kau tenangkan, Oh tuhan, Ternyata dia lebih memilih pergi Dibandingkan bertahan Ah, Kesakitan lagi Sepert...